Pengantar Redaksi Vol. 2. No.2 Juli 2016

Masa depan peradaban Indonesia haruslah bertumpu pada peradaban yang berbudi luhur, yang tingkat keunggulannya diharapkan mampu bersaing dengan peradaban-peradaban dunia lainnya. Lembaga pesantren dengan visinya yang selalu berkembang menyesuaikan zamannya, dewasa ini mengalami berbagai perubahan fundamental yang sesungguhnya turut memainkan peranan penting dalam proses transformasi peradaban Indonesia modern. Salah satu kesimpulan Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya “Tradisi Pesantren ; Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia” tersebut di atas menggambarkan pesantren telah mengalami perubahan dari modelnya yang tradisional yang berbasis pada corak kekyaian menjadi lembaga modern yang menjadi titik temu antara khasanah tradisional dan khasanah modern.

Pesantren mendapatkan momentum penting karena merupakan rujukan implementasi ajaran Islam yang multikultural di satu sisi dan menjadi media penyemaian keilmuan modern pada sisi yang lain. Momentum ini membutuhkan kerangka strategis untuk menjadi pesantren sebagai pusat peradaban ; pertama, merubah paradigma keilmuan pesantren dari keilmuan fikih menjadi integrasi Islamic Studies dan Scientific Studies. Kedua, konsep epistimologi keilmuan pesantren tetap berbasis kepada kajian Al-Qur’an. Al-Qur’an menjadi sumber hipoteris yang tidak bertepi untuk melahirkan penelitian-penelitian prestisius baik dalam ilmu-ilmu budaya, humaniora dan sains. Ketiga, konsep manajemen pesantren mulai bergeser dari terpusat kepada kyai menjadi model kepemimpinan yang kolektif kolegial berbasis pada manajemen modern. Ketiga kerangka berfikir di atas menjadi landasar berfikir terbitnya jurnal pada volume kedua edisi kedua ini.

Kajian pembuka dalam jurnal berkaitan dengan kebudayaan dan humaniora. Kajian ini penting untuk meletakkan strategi kebudayaan sebagai bagian penting bagi pesantren dalam mengembangkan diri. Kebudayaan dan Humaniora merupakan dua persoalan yang disandingkan dengan alasan bahwa di satu sisi kebudayaan dapat berfungsi sebagai media dan di sisi lain humaniora sebagai isinya. Ajaran Islam amat menjunjung tinggi persoalan kebudayaan dan humaniora. Kajian ini dijabarkan oleh Dr. Istadiyantha dalam tulisannya, “Implementasi Ajaran Islam dalam Bidang Kebudayaan dan Humaniora”.

Dalam perspektif Islam, Al-Qur’an merupakan sumber normatif bagi pembangunankebudayaan Islam. Oleh karena itu, pembelajaran Al-Qur’an di pesantren menjadi konten utama. Dalam penelitiannya, Zaenal Arifin, S.S., “Peranan Musyrif dalam Mengembangkan Minat Menghafal Al-qur’an Pada Santri Rayon Kapatra 2 Di PPMI Assalaam Sukoharjo” menunjukkan Al-Qur’an sebagai sumber belajar utama bagi santri dari membaca, menghafalkan dan memahami kandungannya. Kajian Al-Qur’an bagi dunia pesantren merupakan bagian dari penggemblengan mental santri baik dalam mengelola dirinya sendiri maupun lingkungan masyarakatnya.

Para santri dibina untuk menjadi pialang budaya yang memiliki jiwa kepemimpinan. Jiwa kepemimpinan menjadi salah satu inti dari life skill pesantren di era modern seiring dengan menurunnya patronasi kepemimpinan kyai di dunia pesantren. Dalam tesisnya, Jumintono merekomendasikan model kepemimpinan kolegial dalam tradisi Islam termasuk pesantren. Hal ini diulas dalam tulisannya, “Kepemimpinan Riyasah Al-Imamah di Pondok Pesantren”. Model kepemimpinan kolegial yang dikembangkan bercirikan terjadinya: devaluation of power, empowering, shared leadership dan shared decision making. Kepemimpinan model ini menjamin terjadinya sharing the vision, sharing the values, developing high trust, developing participation dan developing teamwork.