Pengantar Redaksi Vol. 3. Nomor 1 Januari 2017

Pendidikan pesantren sesuai dengan karakteristiknya yang “modern” selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Karakter modernisasi pesantren berpijak kepada tiga prinsip perkembangan pesantren yang selaras dengan perkembangan zaman. Pertama, al-muhafadatu ala al-qadim as-saleh, yaitu kemampuan untuk memegangi nilai-nilai tradisi yang masih relevan. Prinsip ini menunjukkan bahwa pijakan modernisasi pesantren di atas prinsip-prinsip tradisi pesantren. Kedua, wa al akhdu bil jadid al-aslah, yaitu mengambil hasil penemuan kontemporer yang dapat memberikan nilai tambah bagi pesantren. Prinsip mengajarkan transparansi pesantren dan kemauan untuk berinteraksi dengan dunia luar. Ketua,wa al akhdu bil jadid al-ijad, yaitu mengambil nilai-nilai baru sebagai hasil dari eksperimentasi pesantren.

Prinsip ini secara ambisius dilakukan pesantren untuk menemukan secara generik apa yang dibutuhkan pesantren dalam rangka mensetarakan paradigma pesantren dengan dunia luar. Prinsip adaptatif pesantren dengan perkembangan zaman ditunjukkan dalam penelitian guru besar IAIN Surakarta, Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar,MA yang berjudul, “Pesantren (Dari Dulu) Siap Untuk Asean Economic Community (AEC) 2016 (Studi Adaptasi Nilai Pesantren Menjadi Asrama Mahasiswa)”. Penelitian ini merupakan studi tentang adaptasi nilai-nilai pesantren menjadi Asrama mahasiswa menuju Asean Economic Community (AEC). Konsep asrama mahasiswa yang hendak dibentuk dalam pembahasan ini adalah sebuah asrama bagi mahasiswa dengan tidak meninggalkan prinsip-prinsip tuntutan kompetensi dan profesionalisme sejalan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau Asean Economic Community (AEC), yang juga telah dipersiapkan oleh pemerintah melalui berbagai regulasinya.

Betapapun modernya pesantren tetapi tetaplah pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang berpijak pada nilai-nilai keislaman. Kajian tentang psikologi pendidikan Islam sangatlah penting untuk meletakkan pendidikan santri yang berada pada usia remaja di pesantren. Kajian ini dibahas oleh Dr. Azam Syukur Rahmatullah, S.H.I.,M.S.I.,MA yang berjudul “Kenakalan Remaja Dalam Perspektif Psikologi Pendidikan Islam”. Azam menyimpulkan bahwa “aspek penyemaian kasih sayang murni tanpa syarat” sebagai prasyarakat utama pendidikan remaja dalam Islam seiring dengan ancaman kenakalan remaja. Psikologi pendidikan Islam memberikan kesadaran diri bagi remaja untuk tumbuh berkembang seiring dengan nilai-nilai ideal yang diinginkan pendidikan Islam. Dr. Asrowi, M.Pd., Dra. Chadidjah,M.Pd. dan Ferisa Prasetyaning Utami, S.Pd dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta melakukan penelitian tentang implementasi teknik assertive training dalam meningkatkan self-confidence yang berjudul “Implementasi Teknik Assertive Training Untuk Meningkatkan Self-Confidence Siswa Sekolah Menengah Pertama Di Kabupaten Karanganyar”. Penelitian ini menghasilkan produk panduan assertive training yang valid berdasarkan uji ahli, menghasilkan produk panduan assertive training yang memiliki kelayakan berdasarkan uji praktisi dan menguji keefektifan implementasi teknik assertive training dalam meningkatkan self-confidence. Berdasarkan hasil uji keefektifan produk dapat disimpulkan bahwa panduan teknik assertive training efektif untuk meningkatkan self-confidence bagi siswa di SMPNegeri 5 Karanganyar.

Sebagai sebuah konsep hidup yang komprehensif, Islam memberikan panduan yang utuh terkait dengan pengelolaan sosial. Dalam kajiannya, Umarulfaruq Abubakar, Pengajar di PPTQ Ibnu Abbas Klaten, menulis tentang “Penanganan Islam Terhadap Kejahatan Sosial”. Islam sangat memperhatikan keamanan dan kesejahteraan hidup bermasyarakat.

Sukoharjo, 01 Desember 2016

Pemimpin Redaksi